Tuesday, September 14, 2010

BANJIR - Bagaimana Cara Mengatasinya



Banjir lagi, basah kuyup lagi, ngungsi lagi, ngepel lagi, membersihkan rumah lagi,....... Begitu mungkin kata-kata yang diungkapkan oleh saudara-saudara kita yang rumah mereka berada diwilayah yang menjadi langganan banjir. Sebutlah kota Jakarta, Padang, Semarang, dan banyak lagi kota lain di negara kepulauan terbesar di dunia ini yang sangat identik dengan wilayah pelanggan bencana banjir setiap musim hujan tiba. Memang sebagian besar kota atau wilayah yang rentan terhadap bencana yang satu notabenenya adalah tempat-tempat yang berada ditepi laut atau sungai; namun tidak sedikit kota-kota yang posisinya jauh dari laut dan sungai besar justru juga masih bisa dicengkram oleh permasalahan ini - sebut saja kota Bandung dan kota Bukittinggi. 



Yang membuat kita cukup prihatin dengan semua ini adalah, pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap penanggulangan bencana ini terlihat seperti tak berdaya menghadapi semua yang menerpa wilayah dan rakyat mereka - sementara disisi lain rakyat yang menjadi korban dari masalah alam ini juga tidak bisa merobah diri kearah yang lebih baik sejalan dengan berjalannya waktu. Mereka semuanya pasrah menanti bencana yang mereka ketahui pasti akan menerjang bila curah hujan sudah mulai bergerak diatas normal.



Lalu, sampai kapan semua ini akan terjadi ? Apakah kita harus sabar menahan semua akibat bencana banjir yang sebenarnya bisa diatasi tersebut apabila kita semuanya bisa satu kata dalam penyelesainnya ?

Secara singkat, jalan keluar terhadap bencana banjir yang sering melanda banyak wilayah dinegara kita yang tercinta ini setiap tahun dan banyak pula tempat-tempat lain diseluruh belahan bumi ini adalah satu; HIJRAH. Hijrah dalam artian abstrak maupun dalam artian kongkrit. Pada hijrah yang abstrak, semua pihak harus bisa merobah pribadi mereka kearah yang lebih baik - mereka harus bisa merobah pola pikir dan cara pandang mereka terhadap jenis bencana alam yang selama ini setia menjambangi mereka; mereka harus berusaha mencari terobosan-terobosan yang akan bermuara kepada teratasinya semua permasalahan yang selama ini mereka hadapi. Sementara, pada hijrah yang kongkrit, tentu saja mereka harus pindah; mencari tempat tinggal atau rumah baru yang jauh dari bencana banjir.



Sebelum kita melihat jalan penyelesaian dari semua permasalahan ini, ada baiknya kita teropong terlebih dahulu hal-hal yang menjadi penyebab terjadinya bencana ini - yang sebenarnya sudah banyak kita yang mengetahuinya.


Semua kita mungkin sudah tahu;
  1. jika banyaknya pohon yang ditebang dihulu sungai akan mengakibatkan terjadinya banjir dihilirnya; semua bisa terjadi karena hilangnya media yang sebelumnya berfungsi untuk menarik atau menyerap butir-butir air hujan, sekaligus menahan lajunya aliran air hujan dari tempat yang lebih tinggi di hulu ke hilir.
  2. semakin banyak orang yang membangun sarana-sarana beton yang menutup habis permukaan tanah dimana dia berada, yang mengakibatkan hilangnya juga tempat yang seharusnya menjadi tempat kembalinya air kedalam bumi. Kondisi ini tentu akan mempercepat terjadinya banjir diwilayah itu, karena semua debit air hujan yang menimpa lokasi bangunan yang dimaksud akan dialirkan ke saluran air atau sungai; sedikit sekali yang meresap kebumi. Akibatnya, saluran air atau sungai tidak mampu lagi menampung akumulasi yang besar terhadap semua debit air yang mengalir tersebut, hingga terjadilah banjir. Kondisi ini dari waktu ke waktu bukannya bertambah baik, malah bertambah parah; karena pembangunan sarana bermaterial beton yang menutupi permukaan bumi terus gencar dilakukan - dan saluran air atau sungai yang menjadi tepat aliran air itu besar atau lebarnya tidak pernah ditambah. 
  3. terjadinya pendangkalan saluran air dan sungai oleh sampah atau lumpur juga merupakan faktor utama yang mempercepat terjadinya banjir disatu wilayah. Faktor ketiga ini berhubungan erat dengan faktor kedua diatas, karena keadaan ini justru akan semakin memperkecil volume air yang bisa ditampungnya. 
  4. jeleknya sistem drainase diwilayah tersebut, sehingga tidak ada saluran yang bisa menjadi tempat  mengalirlnya zat cair ini yang membuatnya merendam wilayah dimana dia mengalir.
  5. kurangnya penghijauan atau tanaman keras pada wilayah yang diterpa banjir, seperti pohon mahoni, surian, jati - atau pohon buah-buahan seperti rambutan, nangka, jeruk, mangga, sawo dan sebagainya  yang urat-uratnya jauh menghujam keperut bumi yang sekaligus juga kan bisa menjadi media pengembalian air hujan ke perut bumi.
  6. adanya pola hidup jorok dari masyarakat sekitar yang suka membuang sampah sembarangan atau ke sungai, sehingga sungai yang pada dasarnya berfungsi sebagai tempat aliran air justru menjadi tempat sampah.


Mencermati semua permasalahan yang terpapar diatas, ada sejumlah cara yang sudah jelas bisa dilakukan untuk menanggulangi malapetaka yang satu ini:

  1. Melakukan penanaman pohon kembali semua wilayah yang sudah digunduli.
  2. Setiap blok bangunan dinegara ini harus memiliki sumur-sumur yang berfungsi untuk menampung kelebihan debit air hujan dilokasi tempat dia berada. Sekurang-kurangnya, disetiap areal seluas 100 meter persegi harus ada dibuat satu buah sumur penampung air hujan ini. Konstruksi yang bisa kita buat dalam permasalahan ini adalah sebuah sumur berdiameter 1,5 meter dengan kedalaman 30 meter; sisi-sisi sumur tersebut dibuat lobang-lobang layaknya pengarah bunga api yang terdapat pada kompor minyak tanah yang nantinya akan difungsikan untuk mempercepat proses penyerapan air hujan yang keluar dan masuk ke sumur tersebut nantinya.

Secara matematis, kita bisa menghitung volume air yang bisa diselamatkan oleh sumur yang dimaksud sebagai berikut; sumur yang bediameter 1,5 meter dan berkedalaman 30 meter tersebut akan bisa diisi oleh air hujan sebanyak 53 meter kubik. Seandainya pada daerah tersebut ada 1.000.000 (satu juta) sumur, artinya 53.000.000 meter kubik air hujan akan bisa dikembalikan kedalam tanah apabila terjadi kelebihan volume air yang jatuh dari langit atau mengalir disekitarnya. Subhanallah.......!

Sebagai tambahan, pengadaan sumur-sumur ini akan berdayaguna ganda; disatu sisi kita bisa mengatasi banjir dengan keberadaannya; dan disisi lain, tanah galian sumur tersebut bisa ditumpuk pada wilayah-wilayah tertentu yang memerlukan penimbunan. 

 Yang akan menjadi permasalahan sekarang adalah, apakah pemerintah akan mendukung ide yang saya paparkan ini; setidaknya dengan mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang mengharuskan setiap blok bangunan di negara ini (terutama di daerah rawan banjir) untuk melengkapi bangunan mereka dengan sumur-sumur penampung air hujan / resapan air hujan. Disisi lain, sistem keselamatan area juga harus dibuat bila ide ini direalisasikan - setiap sumur yang dibuat harus ditutup dengan material yang aman - sehingga tidak akan membahayakan makhluk hidup yang lainnya, terutama manusia.

       Disamping pemberlakuan peraturan pengadaan sumur penyerap air hujan seperti yang dipaparkan diatas, sosialisasi penggunaan sumur galian untuk keperluan setiap rumah tangga masyarakat juga harus dilakukan; karena keberadaan sumur galian juga membantu percepatan penyerapan air hujan kedalam tanah. Jika anda tidak percaya, silahkan anda perhatikan tinggi permukaan air yang mengisi sumur galian di rumah anda disaat hari hujan - volumenya ikut naik. Kenapa ini terjadi ? Karena air hujan yang turun dari langit dan diserap oleh lahan yang ada disekitarnya, beberapa porsen akan sampai kedalam sumur tersebut.

       Semua kondisi yang saya paparkan diatas, sekaligus menolak kampanye-kampanye bohong yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang mengatakan kalau pengurasan air bawah tanah secara terus menerus akan menyebabkan habisnya cadangan air bawah tanah kita. Hentikan kegiatan pembohongan ini terhadap rakyat ! Karena, selama masih ada air yang mengalir diatas permukaan tanah (termasuk di tepat-tempat dimana air berkumpul seperti sawah yang basah, kolam, telaga, danau, sungai dan saluran air); dan masih ada jalan buat air untuk menyerap ke perut bumi (seperti dengan pengadaan sumur penyerap air hujan ini) -- maka cadangan air bawah tanah kita tidak akan pernah habis. Insya Allah..!

UNTUK DIKETAHUI OLEH SEMUA PIHAK, TULISAN TENTANG SUMUR RESAPAN AIR HUJAN INI SUDAH PERNAH BEBERAPA KALI SAYA KIRIM KE SEJUMLAH MEDIA MASA; NAMUN TIDAK PERNAH DIMUAT - MAKA SAYA COBA MENYEBARLUASKAN IDE SAYA INI MELALUI FACEBOOK dan Blog pribadi saya. JIKA ORANG-ORANG YANG BERKOMPETEN DI INDONESIA TIDAK BISA MENANGGAPI IDE INI SECARA POSITIF - AKAN ADA PIHAK ASING NANTI YANG AKAN MENCOBA UNTUK MEREALISASIKANNYA - KARENA TULISAN INI BISA DIAKSES OLEH SEMUA PENGGUNA FACEBOOK dan Internet DISELURUH BELAHAN DUNIA......! KALAU ITU YANG AKAN TERJADI NANTI, BIARLAH - YANG PENTING SAYA SUDAH MELAKUKAN HAL YANG TERBAIK UNTUK MANUSIA DI BUMI INI....!             

  1. Lakukan pengerukan terhadap saluran-saluran air dan sungai secara berkala, sehingga media penyaluran air ini bisa berfungsi secara optimal.
  2. Lakukan pembenahan sistem drainase sitem drainase diseluruh wilayah negeri - dan jangan lupa untuk terus memantau fungsi dan kondisi bangunan yang sudah dibuat tersebut. Janganlah kita hanya bergegas untuk melakukan sebuah proyek pembangunan tapi lalai dalam memeliharanya.
  3. Gencarkan himbauan terhadap semua masyarakat yang masih memiliki lahan kosong atau bisa untuk ditanami, untuk mengisi lahan atau halaman mereka dengan tanaman keras atau buah-buahan - karena kebaikannya akan dinikmati oleh semua.
  4. Lakukan pembinaan yang intens terhadap kelompok masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan / ke sungai; bila perlu, buat aturan hukum pidana buat mereka yang masih melakukan hal tersebut.
        Begitulah hal-hal yang harus kita lakukan dalam mewujutkan hijrah pada sisi abstrak (namun akan memberikan hasil yang kongkrit). Disiisi religi (kehidupan beragama), kita tentu perlu pula introspeksi diri terhadap segala dosa dan kekhilafan yang pernah kita buat; karena adalah satu yang tidak bisa dipungkiri -  semua kejelekan yang menimpa seorang manusia tidak bisa lepas dari kata Bala,  Azab, Ujian, Teguran, atau Musibah (BAUT-M)..... (lebih jauh tentang hal ini akan dibahas pada tulisan yang lain).

        Apabila hijrah secara abstrak diatas tidak bisa dilakukan, lakukanlah hijrah dalam artian yang sesungguhnya; pindahlah dari daerah banjir tersebut - carilah rumah atau hunian yang jauh dari jangkauan banjir. Tidak usah bingung - bagi yang punya cukup uang, pada saat ini ada banyak perumahan yang dibangun diseluruh wilayah Indonesia degan harga yang bervariasi. Jika didaerah anda sudah penuh, di Payakumbuh, dimana sekarang saya berdominisili, masih banyak blok rumah yang kosong karena belum ada pembelinya, silahkan hijrah ke Payakumbuh. Bagi tidak punya cukup uang, anda bisa mengontrak di kota atau wilayah yang aman dari banjir  sambil terus berusaha mengumpulkan uang untuk bisa mendapatkan rumah yang akan menjadi hak milik anda. Konsekwensinya, andapun harus siap dengan lahan kerja yang baru.

        Dibalik semua pemaparan diatas, kitapun harus sadar, bahwa semua langkah kehidupan kita semuanya sudah diatur. Kita tidak boleh merasa aman dari bencana dengan hijrah yang sudah dilakukan. Itu takabur namanya. Banyak orang yang merasa aman dari banjir setelah dia pindah ke daerah yang lebih tinggi - ternyata disana dia dihantam oleh angin puting beliung. Banyak saudara kita yang dulunya tinggal di kota Bengkulu pindah ke Kota Padang karena menghindari gempa, ternyata di Padang dia mengalami gempa yang jauh lebuh dahsyat dari gempa yang sering dialaminya ketika masih di Bengkulu. Yang terpenting yang harus diingat sebelum kita melaksanakan hijrah tersebut adalah, kita melakukan dengan penuh keikhlasan dan i'tikat untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya.

       Akhirnya, semua terserah kepada kita semua; Allah tidak akan merobah nasib suatu kaum sebelum mereka berusaha untuk merobah nasib mereka sendiri. Untuk merealisasikan semua sarana penanggulangan bencana banjir ini - kita harus satu kata, dan harus ada kerja cepat semua aparat yang terkait dengan program ini; ditambah dengan dukungan anggaran yang wajar dari pemerintah. Harus ada perencanaan yang sistematis untuk program ini; baik rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Semuanya tidak akan bisa terwujud dengan simsalabim; atau semuanya hanya akan menjadi mimpi disiang bolong......mimpi ditengah hantaman banjir......! Innalilllaahi wainna ilaihi raajiuun..............!  

(Tulisan ini adalah salinan dari note pada facebook saya).