Friday, September 24, 2010

MEMASYARAKATKAN ASURANSI - MENGASURANSIKAN MASYARAKAT

Berbicara tentang masyarakat miskin di Indonesia, mungkin pikiran masing-masing kita akan menerawang pada banyak hal yang berbeda. Mungkin ada diantara kita yang teringat program-program yang pernah diluncurkan oleh pemerintah untuk pengentasan kemiskinan di negara yang kaya dengan sumber daya alam ini seperti jaring pengaman sosial (JPS) dan bantuan langsung tunai (BLT). Beberapa kawan-kawan yang hobi menonton TV mungkin pikirannya akan langsung mengarah pada acara-acara reality show yang mengangkat ke permukaan masalah kemiskinan di tengah masyarakat; seperti acara bedah rumah dan minta tolong  di RCTI, seandainya aku menjadi di Trans TV, dan acara lain sejenis pada stasiun TV lain seperti  di SCTV, Trans7, antv, dan yang lainnya. Yang lain, mungkin pernah langsung menyaksikan bentuk kemiskinan yang terjadi disuatu wilayah. Tidak sedikit diantara mereka yang makan setiap hari apa adanya, dengan nasi ditambah sayuran yang ada tumbuh disekitar mereka; bahkan banyak yang kesulitan mendapatkan beras karena mahalnya harga jual beras di pasaran. Yang membuat perasaan menjadi semakin teriris-iris adalah apabila kita melihat betapa girangnya mereka apabila suatu saat mereka bisa mendapatkan atau dibelikan nasi bungkus dari seseorang. Itu adalah kebahagiaan tersendiri buat mereka. Lalu, bagaimana jika ada diantara mereka yang meninggal dunia atau ditimpa sebuah musibah ? Itu adalah kiamat yang sangat besar buat mereka. Apalagi jika yang mendapatkan kemalangan tersebut adalah mereka yang selama ini mencarikan nafkah buat keluarganya. Dan jika ini sudah terjadi, jangan salahkan jika kita banyak menemukan anak-anak dibawah umur yang dipekerjakan disebuah usaha, pengamen anak-anak, atau anak-anak yang terpaksa menjadi pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kaya demi meringankan beban keluarganya,.... dan tidak sedikit yang jatuh ke dunia kriminal. Karena mereka tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi jika lingkungan mereka tidak pula peduli dengan nasib yang mereka alami.

     Begitulah potret kehidupan keluarga miskin di negara kita. Siapa yang akan disalahkan dengan keberadaan orang-orang seperti mereka didalam tatanan kehidupan bermasyarakat kita ? Mengapa pemerintah sepertinya tidak punya daya lagi mengatasi permasalahan seperti ini - sama halnya dengan ketidak berdayaan mereka dalam menghadapi tingkah pola mereka yang disebut sebagai wakil rakyat dan banyak pejabat negara yang menggunakan uang negara untuk kepentingan mereka sendiri; baik pribadi, keluarga, ataupun kelompok atau partai mereka dengan mengatasnamakan dinas atau tugas ? Belum lagi usaha untuk menghancurkan para perampok uang negara (koruptor) yang dari hari kehari tetap nyaman berpesta-pora dengan uang pajak, uang yang berasal dari anggaran dan pendapatan belanja negara, bahkan uang pinjaman luar negeri, yang seharusnya bisa dinikmati oleh kelompok masyarakat miskin seperti mereka diatas.

     Sudah banyak program yang diluncurkan oleh pemerintah selama ini yang ditujukan untuk mereka yang bernasib kurang mujur di negara ini, namun selalu ada saja yang membuatnya hancur atau gagal ditengah jalan. Semua itu terjadi karena banyaknya terjadi penyaluran bantuan yang tidak tepat sasaran dan banyaknya dana talangan yang menguap tidak tahu siapa yang harus mempertanggungjawabkannya.

     Lalu, apalagi yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menghilangkan dampak kemiskinan di Indonesia ini ?  Ada satu jawabannya, ASURANSI. Asuransikan semua rakyat miskin di negara Pancasila ini kedalam sejumlah produk asuransi (seperti asuransi kematian, kecelakaan, kesehatan, dan pendidikan). Jika pemerintah yang mengasuransikan, tentu artinya premi asuransi untuk rakyat yang dimaksud dibayar dengan menggunakan uang negara. Jika kita kaji lebih jauh, pemberlakuan program ini nantinya akan lebih meningkatkan harkat hidup rakyat kita yang miskin ketimbang mereka diberi uang tunai yang akan mereka habiskan dalam waktu sekejap.

     Saya sudah bisa membayangkan betapa sejahteranya rakyat miskin tersebut apabila sudah dijamin hidup mereka oleh asuransi; seandainya ada diantara mereka yang meninggal dunia (seperti keluarga mereka), maka ahli warisnya akan mendapatkan santunan dari asuransi baik dalam bentuk uang pertanggungan maupun jaminan biaya hidup untuk siklus hidup mereka ke masa selanjutnya; seandainya ada diantara mereka yang mengalami musibah kecelakaan, maka si korban akan mendapat santunan dan jaminan biaya hidup dari asuransi karena masalah yang dia dapat akibat musibah tersebut; apabila mereka sakit, maka seluruh biaya pengobatan - rawat inap - dan mungkin tindakan operasi, dibayar oleh asuransi; dan apabila anak-anak mereka akan masuk sekolah pada tiap jenjang pendidikan, biaya pendidikan mereka bisa ditalangi oleh asuransi yang menaungi mereka. 

     Harus diakui, adalah merupakan satu hal yang mustahil untuk mengikis habis kerak-kerak kemiskinan dari bumi yang menjunjung UUD 1945 ini, namun dengan adanya program asuransi menyeluruh untuk semua rakyat miskin ini, kita akan masih bisa melihat binar-binar pengharapan untuk tetap bisa menjalani hidup yang lebih baik dimata mereka, walaupun pencari nafkah utama dalam keluarga mereka meninggal dunia atau tidak bisa lagi mencari nafkah akibat sebuah musibah; karena mereka tahu, ada santunan asuransi yang akan mereka dapatkan dibalik musibah tersebut. Tidak akan ada lagi masyarakat miskin kita yang jatuh bertambah sengsara ketika pencari nafkah mereka sakit akibat suatu musibah, dan mereka dipaksa oleh keadaan untuk mengutang kesana kemari untuk mendapatkan biaya pengobatan, karena seluruh biaya pengobatan dan biaya hidup mereka akan ditanggung oleh asuransi. Tidak akan ada lagi siaran reality show di televisi atau dimedia masa lain yang menayangkan orang miskin yang sakit parah, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena ketiadaan biaya untuk berobat; karena biaya berobat mereka harus ditanggung oleh asuransi. Tidak akan ada lagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin yang putus sekolah karena ketiadaan biaya, karena biaya pendidikan mereka ditanggung sepenuhnya oleh asuransi.

     Jika semua itu sudah bisa direalisasikan, pemerintah hanya tinggal mendayagunakan semua potensi yang dimiliki oleh masyarakat miskin kita agar bisa hidup lebih layak. Misalnya dengan mengarahkan mereka yang berprofesi sebagai buruh cucian menjadi pemilik usaha laundry; mengarahkan mereka mencari nafkah dengan berjalan kaki untuk bisa meningkatkannya dengan menggunakan kendaraan, seperti becak atau gerobak; melakukan test bakat buat mereka, membina bakat yang terjaring, kemudian memfasilitasi pemindahan mereka ketempat lain dimana mereka akan bisa mendayagunakan bakat yang mereka miliki; dan lain sebagainya.

     Melihat begitu besarnya dampak keberadaan asuransi ini nantinya kepada rakyat miskin di tanah air kita ini, diperlukan usaha-usaha komprehensif dari semua pihak, terutama pemerintah sendiri untuk mengkampanyekan keberadaan dan perlunya asuransi tersebut buat seluruh rakyat. Yang menjadi sasaran tentu bukan saja mereka yang dikelompokkan kepada rakyat miskin atau kurang mampu, namun juga kepada mereka yang tergolong mampu dan berkecukupan tapi belum tersentuh oleh produk asuransi. Betapa kasihannya kita pada seorang saudara kita yang beberapa bulan yang lalu dikenal sebagai seorang kaya raya, namun sekarang jatuh miskin karena mengidap satu penyakit parah dan telah menghabiskan seluruh hartanya untuk biaya pengobatan. Andaikan dia memanfaatkan suatu produk asuransi kesehatan, tentu semua itu tidak akan pernah dialaminya, karena seluruh biaya pengobatannya akan ditanggung oleh asuransi yang menaunginya. 

     Banyak kejadian seperti diatas yang terjadi pada masyarakat kita yang kehidupan sebelumnnya mapan. Kenapa semua itu bisa terjadi ? Karena, mereka hanya melihat kondisi sehat mereka saja dan tak pernah memperhitungkan kalau suatu saat nanti mereka bisa saja ditimpa suatu penyakit yang akan menyedot seluruh harta benda mereka untuk pengobatannya. Mereka berpikir, akan bisa selamanya jaya dan kaya raya serta menikmati seluruh properti yang mereka miliki lalu menepis suatu fakta, kalau roda nasib itu akan terus berputar dan tak seorangpun yang akan kuasa untuk menghentikannya kecuali yang Tuhan Yang Maha Kuasa.  Hal yang harus disadari oleh mereka yang menganggap remeh keberadan asuransi adalah: ASURANSI DITUJUKAN UNTUK ORANG-ORANG YANG PADA SAAT DIA MENGURUS ASURANSI BERADA DALAM KEADAAN SEHAT WALAFIAT - TIDAK BERMASALAH, dan asuransi tersebut akan berdaya guna buat mereka apabila suatu saat nanti mereka ditimpa suatu penyakit atau musibah. TAK AKAN ADA ASURANSI YANG AKAN MAU MENGABULKAN PERMOHONAN POLIS dan  MENANGGUNG BIAYA PENGOBATAN DARI SEORANG PENYAKITAN SATU JENIS PENYAKIT YANG SEDANG SAKIT PARAH dan MENDAPATKAN PERAWATAN  DI SEBUAH RUMAH SAKIT.

     Ada perlunya pengetahuan tentang asuransi ini dimasukkan sebagai muatan kurikulum di sekolah-sekolah, setidaknya materinya integral dengan mata pelajaran ekonomi. Sehingga diharapkan, warga negara kita kedepan adalah mereka-mereka yang sadar asuransi - mereka yang sadar bahwa asuransi itu perlu buat mereka - mereka butuh asuransi buat pendamping hidup mereka. Jika sudah sampai pada titik ini, kita sudah bisa memasyarakatkan asuransi dan mengasuransikan masyarakat.  

      Kadang-kadang saya berpikir, ahhh.... mungkin hanya akan jadi mimpi realisasi dari semua apa yang saya paparkan diatas mengingat begitu memprihatinkannya situasi dan kondisi pengelolaan ekonomi di  negara ini pada saat ini. Apakah pemerintah bisa tergerak hatinya untuk merealisasikannya ? Sebab, walaubagaimanapun, semua ini baru bisa terwujud bila pemerintah sudah meng-acc-nya, dan kemudian mengeluarkan peraturan atau undang-undang yang mengatur semua itu.

     Dengan i'tikat untuk memasyarakatkan asuransi dan mengasuransikan masyarakat diatas, berikut ini saya coba untuk memaparkan secara sekilas dunia per-asuransian di Indonesia pada saat ini. Dari sekian banyaknya asuransi yang ada ditengah masyarakat kita, pada dasarnya ada dua golongan asuransi; asuransi umum dan asuransi jiwa. Asuransi umum pada umumnya adalah asuransi yang meliputi kelompok asuransi kerugian yang memiliki usia polis yang pendek, misalnya asuransi kerugian untuk  rumah dan mobil - di Indonesia, kelompok asuransi ini berada dibawah naungan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI). Sementara, Asuransi jiwa, adalah jenis asuransi yang ditujukan untuk menjamin kerugian yang mungkin terjadi pada jiwa nasabahnya apakah itu sakit, cacat, kecelakaan, ataupun meninggal dunia - dan induk organisasi dari Asuransi jenis ini di Indonesia adalah Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Disamping itu, segala informasi tentang asuransi bisa diperoleh disitus Info Asuransi Indonesia.

     Berikut ini adalah sejumlah perusahaan asuransi yang berada pada kedua kelompok asuransi diatas. Apabila anda ingin mengunjungi website dari perusahaan asuransi yang disebutkan, anda tinggal meng-klik nama asuransi yang bersangkutan: PT.Prudential Life Assurance, Askes, PT.Asuransi Jasa Raharja, Asuransi Bumi Putera, PT.Asuransi Jiwasraya, PT.Asuransi Sinarmas, PT.Asuransi Allianz Utama Indonesia, ACA Asuransi, PT.Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Asuransi Astra, PT.Asuransi Jasa Indonesia (JasIndo), Asuransi Takaful Indonesia, PT.Asuransi Bintang, PT.Asuransi AXA Indonesia, Asuransi Cerdas, Asuransi Ekspor Indonesia, Asuransi Wahana Tata, Asuransi Tripakarta, Asuransi Multi Artha Guna, Tbk, Asuransi Syari'ah Mubarakah, Asuransi Purna Artanugraha, Asuransi Jaya Proteksi, Asuransi Adira, Asuransi Bakrie Life, dan lain-lain.

     Tidak perlu menunggu rakyat di negara ini memiliki pendapatan perkapita yang tinggi untuk bisa mencapai kata makmur. Apabila semua rakyat di negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 ini sudah bisa diasuransikan, terutama sekali mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan, kata makmur itu sudah selangkah didepan mata........................................!