Thursday, September 30, 2010

B - MAUT.................................................!


Pada hari Rabu, tanggal 30 September tahun lalu - 2009, tepatnya jam 17:16 waktu Indonesia bagian Barat, bertepatan dengan 12 Syawal tahun 1430 - sebelas hari setelah umat Muslim diseluruh dunia merayakan Hari Raya Iedul Fitri, adalah masa dimana terjadinya gempa dahsyat di kota Padang dan daerah-daerah disekitarnya dengan kekuatan 8,5 pada skala richter. Saking kerasnya gempa yang terjadi, untuk lebih mudah untuk mengingatnya, banyak orang memberi sebutan untuk bencana yang telah merengggut ribuan nyawa dan meluluh-lantakkan banyak bangunan di kota Padang dan sekitarnya serta membuat jutaan tetes air mata mengalir tersebut dengan G30S-2009.

Saya masih ingat betul suasana pada saat gempa itu terjadi, saat itu kami semua berada didalam rumah, tiba-tiba tanah yang dipijak seperti berayun selama beberapa menit; semua kami yang berada diatas rumah pada berhamburan keluar. Tak pernah terpikirkan pada saat itu, kalau apa yang baru kami alami pada saat itu berasal dari perairan kepulauan Mentawai, dan yang paling parah menderita dampaknya adalah kota Padang. Keresahan baru timbul di hati saya ketika pada malam harinya berita tentang fakta gempa tersebut ditayangkan oleh TVone dan salah seorang keponakan saya ikut menjadi korban, cidera berat, dan setelah dirawat diruang ICU Rumah Sakit Siti Ramah Padang selama dua setengah bulan, akhirnya Allah Subhanahu Wata'ala mengambilnya untuk duduk kepangkuan-Nya pada tanggal 17 Desember pada tahun yang sama, 2009, pada malam Jum'at, bertepatan dengan malam 1 Muharam 1431 Hijriyah; dia menghembuskan nafas terakhir disaat saya berusaha menggalang sejumlah orang-orang yang peduli untuk menjadi donor darah untuknya di PMI cabang Padang. Masih jernih dalam ingatan, ketika dia masih hidup, ketika kami bercengkrama dengannya, bercanda, mengandai-andaikan dia dewasa - berumah tangga (bersuami), punya anak, cucu dan sebagainya ... dia menjawab kalau dia tidak ingin jadi orang dewasa; pingin terus jadi anak-anak untuk selamanya ... ternyata inilah arti dari semua yang dia ungkapkan.

     Siapa yang harus dipersalahkan untuk semua penumpah air mata tersebut ? Tak seorangpun didunia ini yang ingin hal seperti bencana G30S-2009 tersebut terjadi di lingkungan mereka; terjadi pada keluarga - sanak famili - kerabat - atau teman mereka; terjadi pada semua yang mereka cintai dan kasihi. Tapi disitu Allah ingin memperlihatkan Kuasa-nya; bahwa Dialah yang memiliki semua yang ada di seluruh jagat raya ini; tak ada satupun makhluk di dunia ini yang mampu mengatasi Kuasa-Nya. 

     Tak bisa kita pungkiri kebenaran sejumlah pendapat yang menyebutkan apa-apa yang menjadi penyebab runtuhnya gedung pasar raya Padang, hotel Ambacang, Hotel Mariani, LBA Padang, Primagama, dan ratusan gedung dan rumah penduduk lain berikut isinya ini sebagai musibah, azab, ujian, dan ada juga yang menyebutnya sebagai teguran. Namun, sebenarnya, disamping ke-empat sebutan untuk bencana yang menimpa tersebut, ada satu istilah lain yang perlu untuk didudukkan oleh semua mereka yang berpendapat - bahkan cenderung menghujat tentang faktor-x yang ada dibalik huru-hara 30S tersebut, yaitu Bala. Kelima hal inilah yang saya singkat menjadi B-MAUT; Bala, Musibah, Azab, Ujian, dan Teguran.

Pada tulisan saya tentang Banjir dan Bagaimana Cara untuk Mengatasinya, saya pernah menyinggung tentang hal ini dan memberi singkatan Baut-M, namun setelah saya pikir-pikir, singkatan B-MAUT pasti lebih mudah diingat karena kelima hal yang ada pada singkatan tersebut, semuanya berujung kepada maut. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu-persatu tentang semua hakikat dan sifat yang berdiri dibalik semua bencana atau malapetaka tersebut. 

     Bala, merupakan kejadian buruk yang menimpa orang yang tak berdosa, atau tidak pernah melakukan suatu perbuatan dosa seperti yang diperbuat oleh mereka yang mengundang terjadinya suatu bencana; tapi dia berada dilingkungan atau satu lingkungan dengan orang-orang yang berbuat dosa tersebut. Apabila kita ibaratkan pada suatu kondisi, dia bukanlah orang yang hidupnya bergelimang dengan sampah dan kotoran, tapi, karena dia tinggal dilokasi sampah dan kotoran - akhirnya diapun ikut kena baunya. Atau bak pepatah, orang lain makan cempedak, dia yang terkena getahnya. Yang menjadi sasaran Allah untuk disiksa sebenarnya adalah mereka yang telah banyak berbuat dosa, namun karena mereka yang tidak berdosa tidak mau hijrah atau beranjak dari tempat tersebut, apa boleh buat - mereka terpaksa harus diikutsertakan didalam bencana yang telah ditargetkan untuk mereka yang menjadi target untuk disiksa. Sebagai contoh kongkrit; anda sudah tahu kalau warung dimana anda nongkrong setiap hari adalah markasnya para pemabuk dan pejudi, namun anda masih juga duduk-duduk disana dan bergaul dengan mereka. Jika suatu saat ada diantara mereka yang mengamuk dan terkena sasaran amukan tersebut, atau mereka digelandang oleh polisi gara-gara berjudi dan anda ikut-ikutan dijebloskan kedalam sel, itulah bala buat anda.

Musibah, adalah malapetaka yang menimpa seseorang atau lebih yang pada dasarnya memang pantas untuk terjadi atau pasti akan terjadi. Yang paling jelas dalam hal ini adalah kematian yang menimpa setiap makhluk; baik manusia, jin, syaitan, binatang dan tumbuhan. Satu hal yang perlu diperjelas adalah, jin dan syaitan juga ada ajalnya; mereka juga akan mati setelah mencapai batas umur tertentu - cuma umur mereka jauh lebih panjang bila dibandingkan dengan manusia pada umumnya - mereka bisa mencapai umur ratusan tahun bahkan konon ada yang mencapai ribuan tahun; yang akan dipanjangkan umurnya sampai datangnya kiamat nanti hanyalah iblis, rajanya syaitan. Artinya, jika dalam satu hari ada ratusan manusia yang dicabut nyawanya oleh malaikat Izrail; pada hari yang sama, juga ada ratusan jin dan syaitan yang nyawanya dilempar kealam barzach. Dengan kata lain, musibah adalah malapetaka yang terjadi karena sudah waktunya pantas untuk terjadi, karena sudah sampai umur atau ajalnya. Sebagai contoh, anda punya sepeda, tidak punya rem, tapi anda nekat juga untuk mengendarai; jika suatu saat anda berpapasan secara tiba-tiba dengan sesuatu dihadapan... dan anda tidak bisa untuk mengelak ... tidak perlu diterusakan lagi apa yang pasti akan terjadi. Contoh lain: anda tahu kalau ular itu adalah hewan yang berbahaya, namun anda main-mainkan tangan didepan mulutnya; jika anda dipatuk, itu sudah sepantasnya terjadi.

 Azab ialah suatu siksaan yang ditimpakan pada orang-orang yang berbuat dosa dan tidak juga sadar atau bertobat dari kesalahan yang mereka perbuat. Contohnya: mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa akan banyak ditimpa oleh penyakit yang berasal dari perut dan kejiwaan (emosi); anak laki-laki yang durhaka kepada ibunya, maka istrinya akan mengalami kesulitan dalam melahirkan bayinya; atau anak perempuan yang durhaka kepada ayahnya (disaat masih gadis), maka dia tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang yang hakiki dari seorang laki-laki (suaminya) dikemudian hari atau dengan kata lain - dia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dalam hidup berumahtangga apabila Allah masih mentaqdirkan dia menemukan seorang jodoh; perempuan yang durhaka kepada suaminya akan mendapatkan berbagai macam penyakit baik jiwa maupun raganya - baik di dunia maupun di akhirat. Masih contoh untuk poin  yang satu ini; pejabat-pejabat yang merampok uang negara (koruptor), banyak yang dihantam oleh berbagai macam penyakit seperti stroke; anak-anak mereka tidak bisa diatur dan banyak yang terjerumus pada kasus-kasus kriminal, seperti penggunaan Narkoba; anak-anaknya banyak yang tidak beres otaknya karena diberi makan dengan  uang haram --- akibatnya semua uang yang telah dirampoknya habis dikeluarkan untuk mengatasi semua permasalahan yang dihadapinya. Azab yang menimpa seseorang bukanlah musibah, karena azab yang ditimpakan kepada orang-orang yang dilaknat tersebut biasanya datang secara tiba-tiba, tanpa dia biasa mengelak lagi atau dia tidak pernah menyangka semua itu akan dialaminya; misalnya para pedagang yang hobi menipu pembeli dengan mencurangi timbangan atau menimbun barang yang sebenarnya sangat diperlukan oleh rakyat banyak; suatu saat, semua barang dagangannya akan hancur oleh suatu bencana - seperti kebakaran, gempa, banjir, dimaling orang, huru-hara, penyakit dan lain sebagainya; walaupun dia menerapkan seribu satu cara untuk melindungi hartanya tersebut, namun Allah selalu mempunyai cara untuk membuatnya habis tanpa sisa. Dan tak seorangpun menyangka si pedagang rakus tersebut akan mengalaminya. 

Ujian atau dalam istilah lain disebut juga sebagai cobaan adalah sesuatu hal yang tampaknya buruk, menimpa orang-orang mukmin --- orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahuwata'ala. Allah tidak pernah ingin menyiksanya dengan semua yang menimpa mereka; Dia hanya ingin melihat, sampai dimana kadar keimanan hambanya kepadanya. Kisah Nabiullah yang paling dikenal dalam hal ini misalnya kisah Nabi Ayyub 'alaihissalaam yang diuji Allah dengan penyakit kulit selama 7 tahun; semua anaknya meninggal dunia; istrinya kabur meninggalkannya. Seseorang yang dinilai baik hati, suka menolong, suka bersedekah, selalu menunaikan sholat tepat waktu dan berjamaah, rajin puasa, hobi membaca Al-Qur'an, senang melakukan wirid sejumlah zikrullah, selalu berzakat dan senang bersedekah, sudah menunaikan ibadah haji yang dilanjutkan dengan ibadah umrah setiap bulan; namun masih ditimpa satu hal yang menyakitkan atau menyedihkan, seperti sakit atau kecopetan; itu adalah ujian buat keimanannya.

Teguran, merupakan cara yang dipakai oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada hamba yang dicintaiNya yang mencoba-coba, baik secara sadar maupun tidak, untuk berbuat suatu dosa. Misalnya, seseorang yang biasanya selalu mengerjakan sholat tepat waktu dan berjamaah, lalu karena mendapatkan rezeki mendadak, terlena dalam sebuah pesta yang diadakannya untuk teman-temannya; dia masih asyik berpesta pada waktu azan memanggil. Setengah jam, sesudah azan dikumandangkan, atap bangunan tempat pesta tersebut rubuh; semua temannya luka parah, sementara dia hanya menderita luka ringan. Itu adalah teguran buatnya.

    Banyak masyarakat kita yang tidak bisa membedakan antara bala, musibah, azab, ujian dan teguran, satu sama lain. Masih ada juga yang menyebut suatu kecelakaan yang menimpa seorang penipu sebagai musibah atau cobaan buat dia, padahal itu sebenarnya merupakan azab untuk si penipu. Yang celakanya, ada juga yang asal saja menyebut suatu ketidakberuntungan yang menimpa seseorang sebagai azab - padahal orang yang disebutnya ditimpa azab tersebut adalah mereka-mereka yang beriman sholeh dan tidak berdosa atau tidak pantas untuk menanggung akibat dari semua bencana yang telah mereka alami. Satu hal yang jelas adalah, apabila Allah telah menguji hambaNya, dan hambaNya tersebut mampu melalui semua ujian tersebut dengan sabar dan bertawakal kepadaNya --- maka sesudah masa itu, Allah akan mengganti semua kerugian yang dia dapat selama masa ujian tersebut dengan pengganti yang berlipat ganda. Seperti halnya Nabi Ayyub AS yang dikaruniai anak dan harta yang lebih banyak oleh Allah setelah dia sembuh. Atau orang mukmin yang sakit, setelah sembuh Allah akan mengebalkan tubuhnya dari lebih banyak penyakit; sementara orang mukmin yang kecopetan, sesudah kejadian tersebut biasanya Allah akan memberi dia jalan untuk mendapatkan uang yang berpuluh kali lipat dibandingkan apa yang telah meninggalkannya; bahkan tidak jarang penggantinya tersebut nantinya menjadi mata pencaharian yang akan menopang perekonomiannya dan keluarganya dimasa depan. Subhanallah. 

Dari uraian tulisan saya diatas, jelaslah sudah; kesedihan, tangis, luka, atau apapun nestapa akibat suatu kejadian yang menimpa seorang atau banyak makhluk di dunia ini, bisa sifatnya tunggal: sebagai bala, musibah, azab, ujian, atau teguran (salah satu dari yang lima tersebut). Bisa juga sifatnya majemuk; misalnya  gabungan dari bala, musibah, dan teguran - ini biasanya dijatuhkan kepada mereka yang sebenarnya tidak menjadi target Allah untuk diazab, mereka masih bisa diselamatkan, dan Allah menyuruh mereka untuk hijrah dari lingkungan tersebut. 

     Dengan demikian, janganlah terlalu gamblang menilai sebuah bencana sebagai azab. Ingatlah, yang menjadi korban dari suatu bencana alam atau peristiwa tragis tidak selamanya orang-orang yang dimasa hidupnya berlumur dosa,  yang meninggal dunianya dengan suul khatimah (akhir yang jelek); namun tidak sedikit diantara mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa termasuk anak-anak, mereka semuanya mati syahid dan mendapatkan husnul khatimah buat akhir kehidupan mereka. Semoga Allah menempatkan semua hamba yang menderita akibat suatu bencana ditempat yang layak, dan semoga kita yang masih hidup bisa mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari semua yang telah terjadi. Amien, ya Rabbal 'Aalamien.... !